close

Journals

About Jakarta Journals

Berkunjung ke RPTRA, Disuguhi Makanan dan Minuman

IMG_20170325_094046

Seperti yang saya ceritakan di blog saya baik di bacirita.id, kelilingrptra.id dan jakartakini.id, saya sudah mengunjungi banyak Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.

Setelah saya melakukan pengecekan, hingga hari saya menulis blog ini, sudah 25 RPTRA di Jakarta yang saya kunjungi. RPTRA yang saya kunjungi hampir di semua wilayah, terkecuali di Jakarta Barat.

Ngapain berkunjung ke RPTRA? Saya memang lagi senang-senangnya berkunjung ke RPTRA. Yang pertama, buat liputan yang akan saya tulis di blog saya, dan kedua untuk event saya dan telkom untuk nonton bareng.

Ketika saya berkunjung ke RPTRA, jujur saja, saya kerap disuguhi makan atau minum dan bahkan keduanya oleh pengelola RPTRA. Padahal, saya tidak memintanya.

Yang terakhir, ketika saya berkunjung ke RPTRA Sungai Bambu, saya menikmati lemper enak. Saya juga pernah ditawari kangkung untuk dibawa pulang di RPTRA ini. Kalau minum air mineral sih sudah pasti dikasih.

 

Sewaktu saya ke RPTRA Sutra Indah 2, sama Mbak Rina, saya dikasih kangen water. Walah. Kunjungan ke-2 saya ke RPTRA ini, saya dikasih gado-gado.Enaaak! Dan ketika ke RPTRA Sutra Indah 3, saya ditraktir makan siomay oleh mbak Arlan.

Nggak hanya itu, snack atau makanan ringan yang dijual di RPTRA Sutra Indah 3, juga saya coba lho. Snack ini dagangan titipan ibu-ibu warga di sekitar RPTRA. Mungkin sekalian promosi.

Dan, ketika mampir ke RPTRA Sindang Raya, saya diminta mencoba susu jagung oleh mbak Maria, pengelola RPTRA. Susu jagung ini enak banget lho. Asli!

Saya suka mikir saja, pengelola RPTRA ini terlalu baik ke saya. Tapi, yang namanya rejeki, nggak mungkin ditolak kan. He he…

Makasih ya!

tulisan ini juga bisa dibaca di bacirita.id

baca selengkapnya
Journals

Bertemu Setelah 22 Tahun

img_20170325_165645.jpg

Tahun 1992, 25 tahun lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman saya, Tontalete, Kecamatan Kema (dahulu kecamatan Kauditan) Kabupaten Minahasa Utara (dahulu Kabupaten Minahasa), Sulawesi Utara.

Kala itu saya lulus SMA dan ingin kuliah di Salatiga, Jawa Tengah. Waktu itu sebenarnya saya diajak sepupu saya, dan dorongan orang tua saya. Saya tidak tahu keberadaan kota Salatiga ini, apalagi kampusnya.

Saya akhirnya masuk di Fakultas Teknik Jurusan Elektro di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, kota Kecil (atau sedang) di Jawa Tengah.

Ketika kuliah di sana, seperti saya ceritakan di blog saya yang lain, saya punya gank atau geng atau apalah itu. Tapi saya juga punya seorang teman namanya Yason Triyoso.

Yason ini seorang anak pendeta GKI di Tegal, masih di Jawa Tengah juga. Pertemanan dengan dia sebenarnya unik. Ya kami memang tidak bersahabat seperti saya bersahabat dengan geng saya.

Tapi, Yason ini teman yang selalu mengajak saya masuk gereja GKI di Salatiga meskipun pada pagi harinya saya sudah masuk gereja di Gereja GPIB Tamansari, Salatiga.

Meskipun tidak berlangsung lama, tapi saya jadinya sering masuk gereja GKI di sore hari. Yason menjemput saya di kontrakan saya untuk ke gereja. Ya saya mengenal GKI ini sebenarnya dari Yason.

Kegiatan ini terjadi cukup lama. Saya lupa persisnya berapa lama. Kemudian memang terhenti sebenarnya. Dan tahun 1994 saya pindah ke Fakultas Ekonomi dan setahun berikutnya Yason pindah ke Jogjakarta.

Selama itu pun kami berpisah. Memang rentang waktu 1992 – 1995 itu kami masih bertemu meskipun sudah jarang sekali.

Sampai pada akhirnya, Yason bisa mengontak saya melalui media sosial. Sebenarnya saya setengah kaget, wah lama takĀ  kontak-kontakan. Akhirnya bisa bertemu.

Sabtu 25 Maret 2017 lalu, Yason dan saya akhirnya bertemu kembali. Kebetulan Yason ada urusan bisnis di Jakarta dan datang dari Jogja. Kami pun reunian, ngobrol-ngobrol. Banyak yang kami ceritakan.

22 tahun bukan waktu yang sebentar untuk tidak bertemu. Tapi kalau memang Tuhan menginginkan bertemu lagi dengan sahabat atau teman lama, pada akhirnya memang akan bertemu.

Tulisan ini juga tersedia di bacirita.id

baca selengkapnya
featuredJournals

Satu Kali Kunjungan ke RPTRA, Tiga Tulisan untuk Bacirita

IMG_20170316_142447(1)

Hari ini seperti biasa saya ke Kelapa Gading dan Sunter. Ke Kelapa Gading, saya ke Mall Artha Gading. Numpang ngadem. Sekitar dua jam ke Mall Artha Gading, saya melipir ke Sunter.

Usai dari Sunter, saya mau balik ke Tanjung Priok. Balik kosan dulu sebelum ngedit berita di kantor Walikota Jakarta Utara. Supaya tidak ketemu kontainer dan truk besar lainnya di Jalan Yos Sudarso, saya biasanya lewat jalan melalui Masjid Astra, ke Jalan Jati dan Ke Jalan Swasembada.

Kalau lewat jalur “belakang” yang sering saya lewati kalau malas lewat Jalan Yos Sudarso, pastinya akan melewati Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sungai Bambu.

Kalau lewat RPTRA ini, saya sering melihat apakah ada kegiatan di RPTRA. Pas lewat kok ada ibu-ibu rame bener di RPTRA. Keputusan saya adalah mampir ke RPTRA. Sudah dua bulan kira-kira saya cuma lewat saja di RPTRA ini.

Usai parkir motor, saya kemudian masuk ke RPTRA. Setelah sampai di gedung serbaguna, saya melihat rupanya ibu-ibu ini sedang ikut pelatihan membuat rajutan dasar. Kerjasama PKK dan CMNP.


Jeprat-jepret, saya ke ruang pengelola. Baru depan pintu, saya ketemu Bu Tum. Tanpa basa-basi, BU Tum mengajak saya ikut panen kangkung. Saya yang memang senang dengan kehadiran RPTRA ini, tak perlu tunggu waktu lama untuk mengiyakan.

Sayapun ikut panen kangkung. Bu Tum sempat menawarkan untuk membawa pulang kangkung yang saya panen. Tapi saya menolaknya. Lah sapa yang mau masak.

Balik ke Ruang Pengelola, Bu Tum pamerin ke saya soal PKK Grossmart yang sudah mulai jualan sembako. Wah waaah ! Ternyata sudah jualan sembako murah ya di RPTRA Sungai Bambu.

Habis liputan untuk blog saya, dan juga untuk wartapublik, saya kemudian mau menggali informasi soal pelatihan rajut dasar. Ibu Tum, Mas Fahrizal dari CMNP dan Bu Ari Asih memberikan informasi soal pelatihan tersebut.

Usai tanya-tanya dan ambil foto, saya pun riang. Ada tiga bahan blog hari ini. Dan memang, saya sedang bersemangat. Ketiganya saya tuliskan di blog saya dan di kompasiana juga.

Inilah citizen journalism gaya saya. Reportase bercerita. Akan saya bahas secara khusus nanti ya!

Tulisan ini bisa dibaca di kompasiana dan juga di tommybernadus.com

baca selengkapnya
Journals

CSI : Serial TV Favorit Saya

CSI

Saya tahu pertama kali CSI atau Crime Scene Investigation ini, seingat saya dikasih tahu sama Kapolsek Penjaringan kala itu. Bang Krishna Murti, saat ini pangkatnya masih Komisaris Polisi alias Kompol.

Waktu itu ada sesosok mayat ditemukan. Dari hasil investigasi awal, mayat yang ditemukan ini dianggap meninggal normal. Tapi bang Krishna bilang waktu itu, kalau saya tidak salah : “Kayak di CSI dong, harus diperiksa,”

Saya pun panasaran. Dan kalau tidak salah lagi, CSI itu sempat diputar di Indosiar. Malam-malam.

Saya pun akhirnya jatuh cinta dengan CSI ini. Saya menontonnya di rumah orang tua saya, waktu itu masih tinggal di Jonggol dan pasang TV Kabel.

CSI yang saya tonton awal-awalnya ditayangkan di AXN. Tapi belakangan ini, saya nontonnya di Foxcrime meskipun season yang ditayangkan sudah rada terlambat. Yang penting kan ada tayangannya. Gitu aja sih sebenarnya bagi saya.

CSI ini bagi saya asyik. Meskipun sebenarnya pada kenyataannya masih banyak fiksinya. Terutama teknologi ilmu pengetahuannya, seperti tes DNA yang sangat cepat. Begitu juga dengan teknologi lainnya.

Yang asik bagi saya adalah, karena saya dahulu banyak meliput soal kriminal, saya jadi banyak belajar soal penyidikan kriminal di serial yang ada di Las Vegas, Miami dan New York ini.

CSI Las Vegas, yang saya sukai dan benar-benar saya gemari adalah ketika masih dipimpin oleh Grissom dan masih ada Warrick. Grissom memang akhirnya pergi dan Warrick dibuat tewas dalam sebuah penyelidikan. Meskipun berganti hingga Russel, saya tetap menyukai serial ini.

CSI Miami, dengan Horatio dan CSI NY dengan Mac Taylor juga saya gemari. Banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan dari CSI ini. Terutama database. Database memang sangat penting, terutama DNA dan Sidik Jari. Ini yang saya sukai juga.

Sampai saat ini, ketika saya berlangganan indihome di kontrakan atau kosan saya, saya masih menonton CSI, CSI NY dan CSI Miami di FoxCrime. Seasonnya rada telat nggak apa-apa. Yang penting menonton serial favorit saya.

baca selengkapnya
Movie Journals

XXX : Return of Xander Cage, The Next Fast Furious?

xander cage

Sebagian besar dari kita pastilah sudah menonton film yang sudah banyak sekuelnya, yaitu Fast Furious. Yang saat ini sudah mencapai seri ke-7 dan ke-8 nya akan segera muncul.

Oke, saya tidak akan membahas soal film tersebut. Sekuel fast furious ini muncul ketika saya menonton film XXX : Return of Xander Cage yang sementara tayang di bioskop.

Oke mari kita mulai review sedikit soal film Return of Xander Cage ini. Oh iya, saya juga sudah menonton film XXX pertama ketika Xander Cage yang diperankan Vin Diesel tayang.

Nah setelah XXX yang diperankan Vin Diesel, ada kelanjutannya, yang memerankan bukan Vin Diesel, tapi sudah Ice-cube yang memerankannya. Dia memerankan tokoh sebagai XXX di sini, dengan nama peran Darius Stone.

Oke balik ke review lagi ya. Opening dari XXX: Return of Cage ini, seperti biasa. Yang muncul duluan adalah Gibbons yang diperankan Samuel L Jackson bersama dengan pesepakbola Neymar Jr.

Cerita berlanjut dengan pencurian namanya Pandora Box, yang dilakukan oleh Donnie Yen dan kawan-kawannya. NSA yang ingin mencari Pandora Box tersebut, mencari agen yang mampu.

Dan ternyata, pilihan jatuh pada Xander Cage, yang ternyata belum mati (di film XXX yang diperankan oleh Ice-Cube, Xander Cage dikatakan mati).

Selayaknya film XXX pertama, adegan dibuka dengan adegan xtreme sport yang dimainkan oleh Xander Cage. Coba deh nonton film pertama XXX ini.

Setelah berhasil menemui Xander Cage, agen Jane Marcke kemudian langsung mengantar Xander Cage untuk berburu Pandora Box yang diketahui berada di Filipina. Disini kemudian, sebenarnya Xander Cage merekrut timnya.

Perburuan Pandora Box ini melibatkan aksi olahraga ekstrim yang membuat film ini seru. Begitu juga dengan adegan tembak-tembakan dan adegan berkelahi yang membuat ini bagi saya, full action. Film laga. Ya eyalaaah.

Secara cerita, film ini ya standard film agen rahasia, atau agen khusus dengan timnya yang berburu barang yang ingin dicari. Cerita mirip banyak ditemui di film lain. Plot nya juga begitu.

Perkenalan anggota tim XXX di sini juga dibuat ditengah-tengah setelah Xander merekrut mereka. Yang tidak asing lagi, adalah plot film yang seperti biasa, ternyata orang dalam yang bermain dengan barang yang dicari. Sudah banyak kan yang mirip?

Kalau bicara soal sinematografinya, tidak banyak diharapkan mencari gambar indah. Hanya gambar-gambar penuh aksi saja. Dan permainan teknologi yang tidak membuat saya terlalu tercengang.

Adegan parkour dari Toni Jaa yang diperankan oleh Toni Jaa asik untuk dilihat. Ditambah dengan aksi kungfu Donnie Yen juga asik. Tapi itu bukan sesuatu yang baru juga.

Yang menarik perhatian saya dari film ini adalah kehadiran Kris Wu dan Deepika Padukone. Aktor dan Aktris berdarah asia ini menambah semarak film ini. Apalagi Deepika yang memerankan Serena, so sexy.

Tapi, ada bagian dari film ini, oke sorry kalau saya spoiler atau membocorkan. Tapi ketika Darius Stone pada akhirnya muncul di film ini, dan sejumlah tokoh ini ternyata mereka adalah XXX atau Triple X, akhirnya membuat saya berpikir, wah ini jadi The Next Fast Furious.

Mengapa? Fast Furious di seri ke-4 nya, para jagoan di film-film sebelumnya dikumpulkan untuk menjadi tim. Begitu bukan?

Nah inilah yang terjadi di XXX : Return of Xander Cage ini.

Darius Stone di film sebelumnya dikumpulkan dengan sejumlah anggota XXX lainnya. Mereka menjadi berteman. Nah lho! Bukan tidak mungkin akan ada sekuel selanjutnya dengan model Fast Furious. Ada tim yang terkumpul dari film ini dan bisa membuat ada kelanjutannya.

Ya sudahlah, film ini memang cuma buat seru ditonton sebagai hiburan. Kita tidak bisa berharap banyak dari film ini.

Mencari hiburan dengan menonton, film ini sangat layak ditonton.

baca selengkapnya
featuredJournals

Rekor Blusukan ke Enam Lokasi

RPTRA-Pintu-Air-Pasar-Baru

Bulan Desember 2016 lalu, tepat sebulan lalu, semua orang asik bepergian ke luar kota. Tanggal 12 Desember yang merupakan tanggal merah karena libur Maulid Nabi Muhammad SAW, jatuh pada hari Senin, membuat orang berlomba-lomba berlibur. Long weekend!

Tapi tidak bagi saya. Saya sih tetap di Jakarta. Karena libur, saya memanfaatkannya untuk jalan-jalan blusukan keliling Jakarta saja. Dan saya pun bersiap untuk blusukan. Kebetulan saya bangun pagi, jadi saya bisa berangkat lebih awal.

Berbekal informasi yang saya dapat dari kunjungan saya ke RPTRA Harapan Mulia di daerah Galur, Jakarta Pusat bahwa ada sebuah RPTRA di Kawasan Serdang, saya mulai mencari informasi melalui google. 

Setelah browsing, akhirnya saya dapat juga nama RPTRA tersebut. Namanya RPTRA Krida Serdang. Berhubung karena belum ada lokasi di google maps, saya mencari lewat jalan. Berbekal informasi dan google maps, akhirnya saya menemukan RPTRA yang berada di gang sempit ini. RPTRA ini menjadi lokasi blusukan pertama.

Setelah liputan untuk bacirita.id, saya kembali mencari informasi RPTRA yang masih berada di Jakarta Pusat dan tidak jauh dari Serdang, Kemayoran. Saya menemukan informasi ada RPTRA tidak jauh dari Stasiun Juanda. Saya pun bergegas. Saya memutuskan untuk melewati jalan Garuda.

Nah ketika sedang melewati jalan Garuda, perhatian saya tertuju ke sebuah lokasi yang bernama Lenggang Jakarta Kemayoran. Ini rupanya yang dijelaskan pak Ahok di Rumah Lembang. Saya pun mampir dan mengambil foto di sini. Ketika memgambil foto, sedang dalam pross pembangunan. Akhirnya Lenggang Jakarta Kemayoran ini menjadi lokasi blusukan ke-2 saya.

Seusai mengambil gambar, saya melanjutkan ke RPTRA Pintu Air. Sedikit nyasar, akhirnya saya tiba di RPTRA yang berada di kolong rel kereta api ini. Hal unik yang saya dapatkan dari RPTRA ini adalah banyak anak yang tidak sekolah, belajar di RPTRA ini. Saya tidak akan menuliskan secara rinci di blog ini. Sudah saya tuliskan di blog saya di bacirita.id.

Dari RPTRA Pintu Air, saya mendapatkan informasi ada RPTRA di bawah Rel Kereta lainnya. Namanya RPTRA mangga Dua Selatan yang disingkat RPTRA Madusela. Mbak Heni pengelola RPTRA Pintu Air juga menjelaskan lokasinya RPTRA Madusela ini. Informasi yang sangat berguna karena RPTRA ini belum tercantum dalam google maps.

Setelah pamitan dari RPTRA Pintu Air, yang menjadi lokasi blusukan ke-3 saya, saya meluncur ke RPTRA Madusela. Tidak sulit bagi daya untuk menemui RPTRA yang cukup luas ini. Saya bertemu Sofia yang merupakan pengelola RPTRA Madusela ini.

Setelah liputan di lokasi blusukan ke-4 ini, saya melanjutkan perjalanan ke Priok. Niatnya pengen balik. Udah empat spot. Tapi keinginan berkata lain. Karena saya lewat Pademangan, akhirnya saya ingin mampir ke RSUK Pademangan.

Di RSUK Pademangan ini, saya sempat ditegur satpam karena mengambil foto. Agak aneh memang. Satpam seperti alergi terhadap wartawan atau blogger seperti saya ini. Tapi ya sudahlah. Mereka juga menjalankan tugas.

Selesai capture foto, saya memutuskan kembali ke Tanjung Priok. Capek sudah. Sudah lima lokasi. Untuk kembali ke Priok, saya memutuskan lewat jalan RE Martadinata. Ketika lewat jalan ini, saya akhirnya berhenti untuk mengambil foto Kali Ancol yang bersih. Akhirnya saya blusukan ke enam lokasi gara-gara saya melihat sungai yang sudah lebih bersih ini,

Usai foto-foto, sudah jam 16 lebih. Akhirnya pulang. Sebelum ke kosan, saya mampir makan sate dulu di Pasar Sunter. Lumayan melelahkan blusukan ke 6 spot ini.

Tanjung Priok, 12 Januari 2016

baca selengkapnya
Journals

Rumah Lembang, Ahok dan Keriuhan Warga

rl-3

Sudah dua minggu belakangan ini, bolak balik ke Rumah Lembang menjadi aktifitas keseharian saya. Ngapain? Saya yang awalnya memantau aktifitas di Rumah Lembang hanya melalui social media, ingin melihat langsung keramaian yang ada di Rumah Lembang.

Bukan cuma itu, saya juga ingin menyiarkan secara langsung melalui media sosial, twitter. Biar teman-teman di media sosial saya, bisa menyaksikan apa yang terjadi di Rumah Lembang.

Bukan cuma itu, saya juga ingin menyiarkan atau broadcast lewat media sosial, paparan program langsung dari Calon Gubernur DKI Jakarta, Petahana, Basuki Tjahja Purnama, yang lebih mudah atau akrab dipanggil Ahok.

Saya berangkat dari kosan pagi hari. Tiba di rumah lembang juga masih pagi. Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Rumah Lembang, cuma waktu itu untuk peresmian Rumah Lembang dan ada urusan pertemuan.

Ketika saya tiba sekitar jam 07.00 pagi (persisnya saya tidak tahu), saya lihat Rumah Lembang sudah ramai pengunjung. Mereka ingin bertemu Pak Ahok. Keramaian ini saya sudah lihat dari depan Rumah Lembang Nomor 27. Waktu itu ada pedagang baju kotak-kotak.

Ada warga yang membeli baju kotak-kotak. Jadi pas masuk di dalam, sudah pakai baju kotak-kotak. Jadi kalau berfoto dengan pak Ahok nanti, sudah pakai Baju Kotak-kotak.

Ketika masuk ke tempat pendaftaran warga yang ingin bertemu dengan Pak Ahok, saya lihat ada sedikit antrian. Sudah ramai. Dan yang membuat saya takjub adalah ketika masuk di dalam Balai Rakyat, di bagian belakang Rumah Lembang no 27, warga sudah ramai. Kursi yang disiapkan sudah penuh. Karena sudah penuh, banyak warga yang berdiri.

Beberapa saat menunggu, warga yang datang saya lihat semakin ramai. Warga juga dilatih yel-yel untuk menyambut pak Ahok. Pengunjung pun kompak menyanyikan yel-yel.

Ketika Pak Ahok dikabarkan sudah datang di Rumah Lembang, semakin ramai lah rumah lembang. Semakin penuh. Suasana di Balai Rakyat semakin padat.

Tapi, yang membuat merinding, ketika pak Ahok masuk dalam Balai Rakyat, semua pengunjung atau warga yang datang kompak menyanyinkan Yel-yel Salam Dua Jari dan Maju Tak Gentar.

Pak Ahok pun menyampaikan program-programnya dan saya menyiarkan lewat ponsel saya dan aplikasi periscope. Kurang lebih 15 menit, setelah penyampaian program, disambung tanya jawab. Atau penyampaian dukungan.

Tapi, itu situasi masih biasa saja. Yang paling ditunggu adalah sesi foto bersama pak Ahok. Ini yang gokil. Antrian sangat panjang untuk warga bisa berfoto dengan Pak Ahok.

Karena masih panasaran dan ingin membroadcast lewat twitter, saya keesokan harinya datang kembali. Pemandangan masih sama. Semenjak pagi warga sudah datang. Begitupun ketika sesi foto. Warga tetap berebutan.

Karena masih berebutan, akhirnya Panitia atau Tim Pemenangan pada hari berikutnya membuat kebijakan baru. Pakai nomer antrian. Saya yang mendaftar ketika itu dapat nomer 148. Padahal waktu masih jam 7 lewat.

Lah buset, pagi2 yang daftar untuk foto bareng pak Ahok sudah lebih dari 100 orang. Ini Gilak! Rame bener. Saya memang mendapatkan nomer, tapi tidak saya gunakan. Lah saya udah pernah foto sama Pak Ahok (Nanti saya tuliskan di blog tersendiri yaa).

Meskipun saya sudah bilang ke Panitia tidak akan foto, tapi syarat untuk bisa masuk ke dalam harus ada nomor, ya saya ambil saja nomornya.

Hari-hari berikutnya saya ke Rumah Lembang untuk broadcast dan peliputan, masih melihat keramaian warga. Yang datang beragam. Dan orangnya beda-beda. Mereka memang cinta Ahok, dan ingin menyampaikan langsung dukungan. Beragam komunitas juga datang. Bukan hanya personal.

Seperti yang saya cerita di Blog saya yang lain, Ahok ini memang super star. Istimewa dan Super Istimewa!

Tanjung Priok, 2 Desember 2016

rl-2 rl-1 rl-3

baca selengkapnya
Journals

AKhirnya Foto dengan Menteri

foto-dengan-budi-karya

Seperti yang saya ceritakan di blog saya berfoto dengan Walikota Jakarta Utara, berfoto bersama dengan pejabat itu merupakan momen langka bagi saya, meski saya beberapa kali meliput kegiatan yang ada pejabatnya.

17 Agustus lalu, saya akhirnya berfoto bersama dengan Walikota Jakarta Utara, Wahyu Haryadi. Saya tidak ingin lagi ketinggalan momen-momen berfoto dengan pejabat.

Dua bulan berselang, saya akhirnya punya kesempatan atau momen langka untuk berfoto bersama dengan pejabat.

24 Oktober 2016, saya yang menjadi bagian dari Jasmev 2017, diajak untuk menjadi panitia salah satu event skala nasional. Menjadi panitia event skala nasional juga ini merupakan momen yang pertama bagi saya, yang sudah beberapa kali menggelar event.

Awalnya, Presiden Joko Widodo yang akan datang langsung di event ini. Namun ternyata tidak jadi. Saya tidak heran, karena yang namanya Presiden, kegiatan sangat banyak.

Informasi yang saya dapat, Wakil Presiden Jusuf Kalla akan hadir di event ini. Dan, yang saya tahu, kegiatan Rembuk Nasional ini, akan dihadiri sejumlah Menteri.

Saya berpikir, ah ada kesempatan berfoto dengan pejabat tinggi negara nih. Berfoto bersama bukan saat salaman ya, tapi lebih ke foto berdua atau rame-rame dengan pejabat.

Momen pertama datang ketika saya yang baru akan menuju di lokasi acara penutupan Rembuk Nasional di Puri Agung Ball Room Hotel Grand Sahid Jaya, tiba-tiba melihat kedatangan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

Saya bersama dengan teman-teman Jasmev 2017, Bang Iswandi, Mbak Nevi, Yasinta, Tata, Tika dan Bang Kurnia Agung langsung mengajak Pak Hanif berfoto. Wah keren deh. Foto bareng Menteri. Tapi ya karena masih rame-rame ya belum asik lah.

Momen kedua datang seusai acara penutupan Rembuk Nasional. Saya yang berfoto-foto dengan teman-teman Jasmev kemudian melihat ada Menteri Perhubungan Budi Karya di depan panggung. Saya langsung meminta tolong mas Iman Hermawan untuk memfoto saya berfoto dengan Pak Budi Karya.

Saya langsung menghampiri pak Budi Karya untuk meminta foto bersama. Pak Budi Karya pun langsung mau berfoto. Sumpah saya excited banget. Momen pertama berfoto bersama dengan petinggi negara. Foto berdua ya maksud saya.

Saya pun berfoto dan bersalaman dengan pak Budi. Pak Budi Karya juga menyempatkan diri berfoto rame-rame dengan teman-teman Jasmev 2017. Sampai momen menulis blog ini, saya jujur saya, masih sangat senang dengan momen langka tersebut.

jakarta, 25 Oktober 2016

foto-bersama-dengan-hanif

baca selengkapnya
featuredJournals

Naik Transjakarta, Saldo yang Kurang & Rezeki yang Tidak Terduga

img_5218-1

Senin 24 Oktober, saya dipercaya menjadi salah satu panitia, atau bagian dari penyelenggara event skala nasional, rembuk nasional dalam rangka dua tahun pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Satu nari sebelumnya, kami panitia sudah briefing.Dari briefing tersebut, kami panitia harus sudah ada si lokasi acara, Grand Sahid Jaya di kawasan Sudirman, dua jam sebelum acara dimulai. Karena acara jam 12.00 WIB mulainya, saya dan teman-teman panitia berarti harus sudah ada jam 10.00an. Untuk breakfast briefing.

Saya pun jam 06.00 pagi sudah bangun, dan bersiap berangkat. Karena saya memakai motor pak Darso, teman yang selalu meminjamkan sepeda motor ke saya, saya harus ke kantor Walikota Jakarta Utara dahulu, untuk mengembalikan motor.

Tapi ini kejadian yang sebenarnya. Karena saya tidak memilih meminjam motor, saya akan menggunakan transjakarta, yang menjadi moda transportasi umum favorit saya sekarang ini.

Saya ingat, di saldo kartu flazz maupun e-money saya, untuk naik transjakarta susah tidak mencukupi. Berarti saya harus reload atau isi ulang saldo. Yang parahnya lagi, uang tinggal 14 ribu. Mpuss lo Tom!

Karena saya tidak ada uang lagi, mau tidak mau, saya harus meminta uang dari Pak Darso. Saya memang bekerja mengelola media online punya dia. Tapi ya karena tanpa gaji, saya suka meminta uang saja. Isi Saldo kan minimum 20.000.

Karena waktu sudah semakin mendekat jam 08.00, sementara saya harus berangkat dari Tanjung Priok, makin panik lah saya karena pak Darso tidak ada di tempat. Mau minta uang ke siapa nih.

Akhirnya saya memutuskan turun dari lantai 5, tempat saya mengelola web. Siapa tahu aja ketemu kenalan di bawah dan bisa dapat duit. Haha

Dan beneran terjadi.

Pertama saya ketemu Kang Jaja. Fiuh, dia kasih saya goceng alias 5000 Rupiah. Karena saya sudah ada 14.000, saya rasa cukup. Ada tambahan uang koin 500an untuk beli saldo flazz.

Tidak disangka lagi, saya ketemu Fauzy yang saya kenal baik. Saya akhirnya dapat tambahan dana 20.000. Akhirnya saya dapat dana lebih. Fiuuuuhhhh……

Jam 08.00 lewat dikit, saya berangkat dari Halte Walikota Jakarta Utara. Saya bisa isi saldo flazz untuk naik transjakarta.

Rezeki memang tidak bisa ketebak.

Jakarta, 24 Oktober 2016

Blog ini ditulis pake iPad dalam perjalanan menuju Grand Sahid Jaya di dalam Transjakarta Koridor 1

baca selengkapnya
Journals

Melihat Kali Sunter yang Semakin Bersih

img_4730-1-1024×765

Sebelum dan sesudah berkunjung ke Taman Sunter dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pademangan Timur, seperti yang saya sudah ceritakan di blog saya sebelumnya, saya berkunjung dan mengamati Kali Sunter di beberapa titik.

Sebenarnya, bukan hanya hari Minggu 16 Oktober 2016 kemarin, namun sebulan lalu juga saya sudah memantau Kali Sunter di dua titik. Di Jalan Yos Sudarso dekat Kodamar dan di Depan Kantor Kelurahan Koja serta di belakang Pertamina Koja.

Hari Minggu 16 Oktober lalu, saya memantau Kali Sunter di beberapa titik, seperti di Kelapa Gading Barat, Kelurahan Pademangan Timur dan Sunter Agung. Kali Sunter ini memang panjang rutenya.

Sepanjang pemantauan saya di beberapa titik ini, Kali Sunter saya lihat semakin bersih. Sampah memang masih ada, saya tidak bisa mengatakan 100 % hilang tapi, dari yang saya amati, semakin jauh berkurang.

Semisal di Kali Sunter yang berada di Koja, Jakarta Utara. Saya lihat semakin jauh berkurang sampahnya. Tidak banyak sampah yang mengapung. Warna air juga sudah tidak hitam pekat dan berbau.

Hal serupa juga saya temui di Kali Sunter yang melintas depan Mall Artha Gading, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading Jakarta Utara. Semakin berkurang sampahnya.

Ketika saya menuju ke RPTRA Pademangan Timur, Kali Sunter atau mungkin pecahan atau anak Kali Sunter yang melintas juga terlihat bersih. Saya melihat ada bambu yang dipakai untuk menghalau sampah sebelum diangkat.

Seusai berkunjung ke RPTRA Pademangan Timur, saya juga melintasi Kali Sunter yang berada di samping Jalan Danau Sunter Barat. Dahulunya Kali Sunter ini banyak sekali sampahnya.

Ketika saya berkunjung, sedikit terkejut juga saya. Sampah semakin jauh berkurang. Bahkan, seorang bapak (saya lupa namanya) yang berjualan koran di jembatan hitam yang berada di Kali Sunter ini mengatakan sudah jauh lebih bersih dibandingkan dahulu.

Diakui atau tidak, dari yang saya amati, sejumlah Sungai atau Kali ini semakin berkurang sampahnya. Banyak petugas dari Badan Pengelola Kebersihan (BPK) Badan Air dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang terus berupaya membersihkan kali.

Belum semua kali bersih memang, tapi setidaknya mulai bersih. Seperti yang saya sudah ceritakan di blog saya sebelumnya, setiap hari petugas tetap harus mengangkat sampah dari kali. Dan semoga saja, warga akan membuat kali bukan tempat membuang sampah.

Semoga

Jakarta, 20 Oktober 2016

baca selengkapnya
1 2 3 6
Page 1 of 6