close

Movie Journals

Movie Journals

XXX : Return of Xander Cage, The Next Fast Furious?

xander cage

Sebagian besar dari kita pastilah sudah menonton film yang sudah banyak sekuelnya, yaitu Fast Furious. Yang saat ini sudah mencapai seri ke-7 dan ke-8 nya akan segera muncul.

Oke, saya tidak akan membahas soal film tersebut. Sekuel fast furious ini muncul ketika saya menonton film XXX : Return of Xander Cage yang sementara tayang di bioskop.

Oke mari kita mulai review sedikit soal film Return of Xander Cage ini. Oh iya, saya juga sudah menonton film XXX pertama ketika Xander Cage yang diperankan Vin Diesel tayang.

Nah setelah XXX yang diperankan Vin Diesel, ada kelanjutannya, yang memerankan bukan Vin Diesel, tapi sudah Ice-cube yang memerankannya. Dia memerankan tokoh sebagai XXX di sini, dengan nama peran Darius Stone.

Oke balik ke review lagi ya. Opening dari XXX: Return of Cage ini, seperti biasa. Yang muncul duluan adalah Gibbons yang diperankan Samuel L Jackson bersama dengan pesepakbola Neymar Jr.

Cerita berlanjut dengan pencurian namanya Pandora Box, yang dilakukan oleh Donnie Yen dan kawan-kawannya. NSA yang ingin mencari Pandora Box tersebut, mencari agen yang mampu.

Dan ternyata, pilihan jatuh pada Xander Cage, yang ternyata belum mati (di film XXX yang diperankan oleh Ice-Cube, Xander Cage dikatakan mati).

Selayaknya film XXX pertama, adegan dibuka dengan adegan xtreme sport yang dimainkan oleh Xander Cage. Coba deh nonton film pertama XXX ini.

Setelah berhasil menemui Xander Cage, agen Jane Marcke kemudian langsung mengantar Xander Cage untuk berburu Pandora Box yang diketahui berada di Filipina. Disini kemudian, sebenarnya Xander Cage merekrut timnya.

Perburuan Pandora Box ini melibatkan aksi olahraga ekstrim yang membuat film ini seru. Begitu juga dengan adegan tembak-tembakan dan adegan berkelahi yang membuat ini bagi saya, full action. Film laga. Ya eyalaaah.

Secara cerita, film ini ya standard film agen rahasia, atau agen khusus dengan timnya yang berburu barang yang ingin dicari. Cerita mirip banyak ditemui di film lain. Plot nya juga begitu.

Perkenalan anggota tim XXX di sini juga dibuat ditengah-tengah setelah Xander merekrut mereka. Yang tidak asing lagi, adalah plot film yang seperti biasa, ternyata orang dalam yang bermain dengan barang yang dicari. Sudah banyak kan yang mirip?

Kalau bicara soal sinematografinya, tidak banyak diharapkan mencari gambar indah. Hanya gambar-gambar penuh aksi saja. Dan permainan teknologi yang tidak membuat saya terlalu tercengang.

Adegan parkour dari Toni Jaa yang diperankan oleh Toni Jaa asik untuk dilihat. Ditambah dengan aksi kungfu Donnie Yen juga asik. Tapi itu bukan sesuatu yang baru juga.

Yang menarik perhatian saya dari film ini adalah kehadiran Kris Wu dan Deepika Padukone. Aktor dan Aktris berdarah asia ini menambah semarak film ini. Apalagi Deepika yang memerankan Serena, so sexy.

Tapi, ada bagian dari film ini, oke sorry kalau saya spoiler atau membocorkan. Tapi ketika Darius Stone pada akhirnya muncul di film ini, dan sejumlah tokoh ini ternyata mereka adalah XXX atau Triple X, akhirnya membuat saya berpikir, wah ini jadi The Next Fast Furious.

Mengapa? Fast Furious di seri ke-4 nya, para jagoan di film-film sebelumnya dikumpulkan untuk menjadi tim. Begitu bukan?

Nah inilah yang terjadi di XXX : Return of Xander Cage ini.

Darius Stone di film sebelumnya dikumpulkan dengan sejumlah anggota XXX lainnya. Mereka menjadi berteman. Nah lho! Bukan tidak mungkin akan ada sekuel selanjutnya dengan model Fast Furious. Ada tim yang terkumpul dari film ini dan bisa membuat ada kelanjutannya.

Ya sudahlah, film ini memang cuma buat seru ditonton sebagai hiburan. Kita tidak bisa berharap banyak dari film ini.

Mencari hiburan dengan menonton, film ini sangat layak ditonton.

baca selengkapnya
Movie Journals

Kecewa Ama Suicide Squad

suicide_squad_background2_0

Sebenarnya Suicide Squad ini, bukan film yang saya tunggu. Seperti film-film Superhero lainnya, saya cenderung tidak menunggu film seperti ini.

Ya nggak gegap gempita lah menunggunya, seperti menunggu transformers, atau Jason Bourne, atau 13 Hours.

Tapi, karena nonton trailernya di youtube dan baca sana sini di social media, saya jadi tertarik menontonnya. Apalagi, ketika sudah mulai tayang di bioskop mulai Rabu 3 Agustus kemarin, saya pun langsung menonton.

Karena yang reguler 2D tayangnya kemaleman, saya akhirnya memilih yang 3D. Selisih goceng ini lah. Hajar sudah. Duit dikasih teman ini. Bukan pake duit eug.

Dari awal film saya suka. Intro film ini saya lihat berbeda dengan film lain. Apalagi ketika WB alias Warner Bros menampilkan logonya, penuh warna dan wah beda.

Begitu juga ketika si Amanda Waller memperkenalkan tokoh-tokoh jagoan di film ini. Wah beda. Dan unik, meskipun singkat-singkat saja.

Tapi ada satu hal yang mengusik saya. Kok ada mistis-mistisnya ya melalui si witch. Lah sejak kapan film bertema jagoan seperti ini ada beginian. Emang ini film sihir-sihiran apa?

Tapi ya saya pikir enjoy aja lah.

Lama-lama mulai bingung saya. Lah musuh jagoan di film ini kok kayak gitu ya. Si witch sama kakaknya dan pasukannya itu, bikin saya kecewa dengan film ini.

Apalagi adegan berantem di bagian akhir film ini. Nggak banget deh menurut saya. Jagoan kok lawan yang berbau sihir-sihir.

Ketika si Diablo berantem dengan kakak penyihir, makin nggak banget film ini. Lah kok kayak film Mummy si Brendan Fraser ya. Mengalahkan si witch juga kok caranya begitu. Wadoh. Makinlah saya kecewa dengan film ini.

Jared Leto juga memerankan Joker ini kok kurang yahud ya? Joker ini kan khasnya dia itu “Psycho”. Tapi dia kurang “gila” di film ini. Kalah sama Joker versi alm. Heath Ledger.

Malahan, Harley Quinn yang diperankan Margot Robbie bisa menutupi peran Joker si Jared Leto. Dia penyelamat film ini. Sisanya sih ya biasa aja lah. Standard.

Dan ya saya kecewa ama film ini. Apalagi udah bayar 40.000. DUh….

baca selengkapnya
featuredJournalsMovie Journals

Film Suicide Squad yang Mengecewakan

img_2425-2

Sudah dari pekan lalu, keinginan menonton Suicide Squad, tidak terbendung. Saya awalnya mikir, film ini bakal tayang nanti Agustus pertengah atau akhir.Tapi ternyata tidak. Mulai 3 Juli, Suicide Squad sudah tayang di bioskop. Setelah saya melihat pengumuman di twitter tentunya. Sedari siang, saya memang sudah ingin nonton, kebetulan ada rezeki pula dari teman.

Sepulang ngantor, saya dibonceng teman langsung meluncur ke TKP. Keinginan tidak terbendung setelah melihat trailer di social media maupun youtube. Wogh.

Karena Artha Gading XXI lagi renovasi, pilihan jatuh ke CGV Blitz Mall of Indonesia.

Saya pun langsung menuju ke lantai 2. Beli tiket. Lihat jadwal di aplikasi, sebenarnya mau nonton yang jam 21.50.

Tapi pas beli tiket, ada yang jam 20.00. Walaupun 3D ya sudah. Sikat bro! Selisih goceng ama yang 2D kok.

Setelah sejumlah trailer dan iklan, film dimulai.

Di awal film, saya sih sudah geregetan menunggu aksi dari para jagoan. Kali ini bad guys akan menjadi good guys.

Tokoh pun diperkenalkan. Yang bikin saya bingung, lah kok ada toko “mistis” di sini. Berbau sihir-sihir gitu lah. Sejak kapan ya hollywood mengemas jagoan modern, kok ada yang beginian. Kecewa sih, tapi ya sudahlah.

Film mengalir cepat, tokoh diperkenalkan singkat-singkat aja. Gak kayak deadpool, atau antman yang agak banyak diceritakan asal muasalnya.

Mungkin karena banyak, ya singkat-singkat saja. Atau mungkinada spin off nantinya.

Lama kelamaan, saya mulai bertambah kecewanya. Lah kok musuhnya tokoh-tokoh suicide squad kok kayak gini ya?

Akhir film juga nyebelin banget. Lawannya kayak gitu. Apalagi pas el diablo berantem sama kakak laki-laki penyihir. Fakkk kok jadi begini ya.

Bagian akhir film totally mengecewakan. Musuhnya kok gitu. Trus cara ngalahinnya juga kok kayak film mummu yang bertahun-tahun lalu itu. Oh no!!! Kehabisan ide kah hollywood?

Beruntung Margot Robbie yang berperan sebagai Harley Quinn di film ini bermain cantik. Will Smith, dan lainnya biasa aja. Apalagi Joker. Kurang psycho. Masih kalah dengan Joker versi Alm. Heath Ledger. Kalah jauh.

Action di film ini juga biasa aja. Special effect, gak ada yang special kecuali transformasi si witch atau enchantress. Dua jempol untuk ini.

Saya keluar bioskop dengan kekecewaan. Asli kecewa be ge te. Apalagi nonton 3D yang gak perlu2 amat karena kurang berasa 3D nya.,
Jakarta 3 Agustus 2016

Kelar nulis jurnal ini 4 Agustus sih. Lah nulisnya jam 11.55 ya kelarnya jam 00.12.

baca selengkapnya
JournalsMovie Journals

Duh, Artha Gading XXI Direnovasi

img_2390-2

Sedari tadi siang, di kantor, saya udah niat mau ke Mall Artha Gading. Ngapain? Ya maunke Gramedia, beli notes kecil yang bisa masuk saku. Selain itu ya mau nonton ice age atau film jacky chan terbaru (lali judul e).
Sebelum nonton, wajib hukumnya bagi saya, untuk ngecek jadwal film. Lewat aplikasi mata2 di gadget saya.
Tapi ada keanehan muncul. Di gadget saya, jadwal film di Artha Gading XXI nggak muncul. Saya pikir mungkin lagi nggak konek nih.

Karena di aplikasi nggak muncul, saya buka di 21cineplex.com. Ternyata sama! Gak muncul juga. Saya pikir mungkin masih error websitenya.

Akhirnya pulang dari kantor. Setelah ngos2an jalan kaki ke halte transjakarta dan turun dari transjakarta masih jalan kaki juga ke artha gading, saya ke gramedia.

Kelar transaksi beli notes kecil yang udah saya incer, saya naik ke lantai 5 bioskop.
Jreng! Kaget bukan kepalang. Lah kok ditutupin triplek?

Perhatian saya tertuju ke selembar kertjas. Artha Gading XXI tengah direnovasi. Dua bulan ditutup sementara.
Kesel bercampur galau. Dua bulan ditutup karena renovasi! Anjir…. Ini kan salah satu bioskop favorit. Murah soalnya. Lagian dekat dari tanjung priok.

Wadoooh….. Masa musti nonton di CGV Blitz atau La Piazza XXI? Tapi ya mau gimenong lagi….

Jakarta, 1 Agustus 2016

baca selengkapnya
JournalsMovie Journals

Satu Pekan Tiga Film Indonesia

img_1556

Beberapa hari sebelum lebaran, di bioskop Indonesia tetiba diisi dengan film Indonesia. Film Hollywood hampir nggak ada. Cuma ada finding dory ama legend of tarzan. Sebelum legend of tarzan tayang, sudah ada rudy habibie duluan. Selisih satu hari kalo gak salah. Yag namanya juga catatan atau jurnal ini saya buat setelah beberapa minggu sesudah nonton filmnya. Jadi sedikit lupa persisnya.

Nah, saya akhirnya nonton Rudy Habibie. Mungkin itu tanggal 30 Juni. Pas hari pertama tayang. (Nah ini malah ingat).

Pas lebaran, saya juga kembali dari Pulau Tidung. Tanggal 6 Juli. Karena saya udah tau h-1 lebaran banyak film Indonesia yang tambah lagi di bioskop, saya berniat untuk nonton film Indonesia lagi. Tapi entah kenapa akhirnya saya batalin mau nonton film Indonesia. Lebaran ke-2 aja deh nontonnya. Hari kamis itu. Tanggal 7 Juli.

Sayapun menuju mall Sunter. Nonton di Sunter 21 aja. Murah. Nonton di Artha Gading, tempat favorit saya, atau MoI, mahal. Tiket bioskop hari libur, bisa 50 ribu. Mahal cuk! Nah di Sunter Mall, cuma 35 ribu. Lumayan selisi 15.000 bisa buat jajan.

Akhirnya pilihan jatuh keee ILY from 38.000 feet.

Selesai nonton, saya naik transjakarta ke MoI. Sunter mall udah bosen, jadinya pindah Mall. Tapi entah kenapa, sorenya saya kembali ke Sunter Mall. Niatnya mau nonton Koala Kumal. Eh buset. Sold out untuk yang jam 21.00. Batal nonton deh.

Akhirnya saya pulang.

Saya memutuskan untuk nonton Koala Kumal. Di CGV Blitz Mall of Indonesia nontonnya. Ehtapi saya lupa. Di MoI apa Sunter Mall ya? Ah masa bodo lah. Intimya tuh film saya tonton deh.

Okeh, ini beberapa catatan dari saya soal tiga film Indonesia ini. Pendek aja, karena di blog saya bacirita.id, udah ada reviewnya. Ini catatan singkat aja.

Rudy Habibie

Filmnya oke punya. Akting pemain bagus. Lokasi syuting keren. Kostum pemain keren. Menginspirasi ceritanya. Bagus lah untuk ditonton. Eniwei, Chelsea Islan cakep. Tapi Indah Permatasari bikin eug galau. Cakep breee.
I love You from 38.000 feet

Walah, ini film, ftv banget. Cerita terlalu teenlit banget. Menangnya ya lokasi syuting aja bagusan dikit. Sayang aja kalo nonton do bioskop. Buang2 duit. Untung Michelle Ziudith enak dilihat. She saved the movie. Hahaha

Koala Kumal

Ide cerita realita banget. Putus, gagal move on & balikan ama mantan. Ya standard sih sebenarnya, tapi ya asik ditonton karena ada lucunya juga. Tapi ya sayang juga ditonton di bioskop. Apalagi kalo sampe bayar 50-75 ribu. Hahahaa. Cukup tunggu tayang di tv aja. Kalo nggak ya streaming pake wifi gretongan.
Oke sekian catatan soal nonton tiga film Indonesia dalam satu pekan. Gak apa-apa bayar nonton. Sekali-kali bikin film Indonesia maju.

Tanjung Priok, 23 Juli

Dua minggu lebih setelah nonton film yang ada di catatan ini. Untung masih ingat.

baca selengkapnya
JournalsMovie Journals

Star Trek Beyond

startrekbeyond

 

Film Sci-fi Star Trek ini, to be honest, bukanlah salah satu film yang saya wajib tonton. Udah sekian banyak film Star Trek yang beredar di bioskop, belum ada yang saya tonton satupun.

Namun kali ini berbeda. Mungkin karena nggak ada film lain yang bisa saya tonton, di Artha Gading XXI, pilihan saya ya jatuh ke Star Trek Beyond.

Sebelumnya, saya udah cek di IMDb.com. Mau lihat dapat point berapa. Waktu semalam saya cek, dapat point 8.7 (dan biasanya turun sih). Semakin terdorong lah saya menonton Star Trek ini.

Akhirnya, kebetulan ada yang ngasih saya selembar uang goban alias 50 ribu, nonton deh saya. Kalau tiket hari biasa, ya cuma 30.000 di XXI Artha Gading.

15 menit sebelum film dimulai, sudah masuk. Ini protap alias prosedur tetap di grup 21. Jadi kalau terjadwal 21.55, jam masuknya 21.40 atau 21.45. Berbeda dengan grup blitz (nanti saya cerita juga ya).

Setelah sejumlah trailer film, akhirnya film dimulai. Nah awalnya saya pikir, film ini ya bakal boring, membosankan gitu. Karena ya saya pikir cuma akan berputar-putar di dalam pesawat.

Eh ternyata beda. Star Trek Beyond ini jadi perang bintang. Penuh aksi. Wow. Saya kaget. Nah, ada reviewnya sih. Silakan baca : Star Trek Beyond : Awesome!

Akhirnya, saya puas nontonya. Sampai keluar bioskop saya masih terkesima dengan special effect, sampe make up para bintangnya. Keren sangat.

Jakarta, 21 Juli 2016 15.25 WIB
(film ini saya tonton 20 Juli 2016 jam 21.55).

 

baca selengkapnya