close

Travel Journals

Travel Journals

Blusukan ke Kalibaru dan Kedai Kopi Unik di Marunda

img_2405

Minggu 28 Agustus, Walikota Jakarta Utara, Wahyu Haryadi akan menggelar kegiatan bersih-bersih di kelurahan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Seperti biasa, saya diajak untuk ikut dengan pak Wali, blusukan, sekaligus liputan untuk wartapublik, media online kecil-kecilan yang saya kelola. Punya teman, tapi saya yang kelola.

Saya sudah standby dari pagi, dan acara blusukan sekaligus bersih-bersih ini, dimulai sekitar jam delapan pagi. Cuma butuh waktu satu setengah jam, dan pak wali sudah beres.

Kami dan rombongan menuju ke kantor camat Cilincing. Tak lama kemudian, pak Sekertaris Kota Jakarta Utara, Rusdiyanto mengajak kami pergi. Mau makan siang rupanya.

Akhirnya, kami berangkat. Sempat ada kekacauan sedikit antara saya dengan teman, namanya juga nebeng. Tapi akhirnya, kami menyusul rombongan juga.

Ternyata makan siang di sebuah cafe bernama JKC, di kawasan gudang peluru, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Cafe ini unik. Karena bersebelahan dengan empang. Dan juga masih alami.

Ketika saya sampai di tempat ini, perhatian saya tertuju ke toples yang berisi kopi. Seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya di bacirita.id, cafe JKC ini unik.

Pembuatan kopi dengan sistem vacuum. Saya sih tidak terlalu paham dengan metode ini, namun saya melihat ini asik. Tidak seperti di starbucks atau kopi modern lainnya. Ini pembuatan kopi khas Indonesia.

Saya bahkan sempat berpikir. Ini kedai kopi mirik klinik kopi yang di film ada apa dengan cinta. Unik memang.

Setelah berurusan dengan kopi, makanan siang pun tersaji. Kepiting telur saus padang, udang saus padang, cumi goreng tepung dan ikan kuah asam.

Kami pun makan siang. Kepiting saus padang ini, yummi banget. Begitu juga dengan ikan kuah asamnya. Maknyos tenan. Jadi ingat masakan nyokap di Manado deh. Kuah asam yang menyegarkannnnn!!!

Jakarta, 29 Agustus 2016

tentang JKC cafe ini, bisa dibaca di : http://bacirita.id/jkc-cafe-cafe-kopi-unik-di-marunda-cilincing/

baca selengkapnya
About Jakarta JournalsTravel Journals

Keliling Jakarta dan Kedinginan Naik Transjakarta

DCIM100MEDIA

Kalau lagi bengong, jenuh dan ingin killing time, ada satu kebiasaan saya.Kebiasaan saya ini, naik Transjakarta, Keliling Jakarta.

Selesai saya mengupdate website yang biasa saya kelola, meski website kecil-kecilan, yang sampe dibilang sama teman, media ecek-ecek, Kemarin Minggu 21 Agustu, ssaya rencana awalnya mau pulang ke kos-an saja .

Kemudian saya berubah pikiran ah ngapain juga di kosan, ya udah keliling Jakarta naik Transjakarta aja.

Dari tempat saya biasa update web, di Kantor Walikota Jakarta Utara, saya langsung meluncur ke Halte Transjakarta Walikota Jakarta Utara. Jalan kaki cuma sekitar 3-5 menit.

Naik tangga yang lumayan tinggi, akhirnya saya sampai di halte Transjakarta Walikota Jakarta Utara yang ada di seberang. Plan awal, Naik Koridor 12, ke Stasiun Kota.

Tapi, rencana awal berubah gara-gara bus datang duluan bus biru Transjakarta yang merupakan bantuan dari Kementrian Perhubungan. Bus ini Koridor 10, Tanjung Priok P- PGC Cililitan. Karena kosong, tak butuh waktu lama untuk saya berpikir naik aja lah.

Plan keliling Jakarta pun berubah. Saya akhirnya naik ke arah PGC, menurut rencana saya akan turun di Halte UKI Cawang, dan melanjutkan naik Koridor 9 Pinangranti Pluit. Wehehehehe.

Cuma butuh sekitar 40an menit perjalanan dari Halte Walikota Jakarta Utara sampai ke Halte UKI. Dan saya tidak lama menunggu, bus Koridor 9, berupa bus Scania Gandeng sudah tiba. Dan tidak banyak penumpang. Bisa duduk.

Langsung naik deh saya!

Perjalanan ke Pluit dari Halte UKI, butuh waktu sekitar tidak sampai satu jam. Jalanan lancar. Karena hari Minggu. Rute Koridor 9 ini melewati jalan MT Haryono, Gatot Subroto, S Parman, Latumeten.

Lumayan lah bisa sight seeing Jakarta di kala malam. Sekalian killing time.

Saya tiba di Halte Penjaringan, sekitar jam 20.50. Lupa nyatet jam-nya. Di Halte Transjakarta Penjaringan ini, halte start Koridor 12, Penjaringan Tanjung Priok. Ini artinya Koridor terakhir, alias, saya sudah akan kembali ke Priok.

Sekitar 10an menit menunggu, bus Koridor 12 akhirnya sampai di Halte. Saya pun naik, dan kosong ya bisa pilih kursi paling Belakang dong. Asiiik!

Perjalanan kembali ke Halte Walikota Jakarta Utara, butuh sekitar satu jam juga. Melewati Kota, Mangga Dua, Kemayoran.

Akhirnya jam 21 lewat saya tiba di halte Start saya. Walikota Jakarta Jakarta Utara. Puas deh keliling Jakarta pake Transjakarta.

Di dalam bus, karena bus ini masih baru, saya pun kedinginan. Beruntung, saya tetap memakai jaket. Padahal rencana awal Jaket mau saya tinggal di Kantor aja. Huhuhuhuhuhu.

Beberapa penumpang juga saya perhatikan, melipat tangan di dada, atau berpangku tangan. Kedinginan juga mereka.

Sekedar saran aja, kalau mau naik Transjakarta malam-malam, mendingan pake Jaket. AC di busnya dingin sob!

Jakarta 22 Agustus 2016

baca selengkapnya
featuredTravel Journals

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari Bagian-4 (Habis): Takbiran dan Lebaran Pertama Kali di Pulau Tidung

open house camat

Selama saya bertugas jadi koordinator media di Kepulauan Seribu, bukan hanya sekali atau dua kali saya bermalam takbiran atau berlebaran di Kepulauan Seribu.

Tapi, malam takbiran di Pulau Panggang dan lebaran hari pertama di Pulau Pramuka, meskipun saya seorang non muslim. Yang masih saya ingat, saya malam takbiran dan berlebaran di Pulau Panggang dan Pramuka itu, tahun 2004, 2005, 2006, 2008 dan 2009.

Tapi tahun 2015 ini sedikit berbeda. Saya berlebaran hari pertama di Pulau Tidung.

Seperti di catatan perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari bagian 1, saya diajak oleh Camat Kepulauan Seribu Selatan, Bang Arief untuk menemani dia dan keluarganya berlebaran di Pulau Tidung.

Lebaran hari pertama yang pasti.

Tapi, sebelum berlebaran, seperti di catatan perjalanan bagian 1 hingga 3, saya mengunjungi Pulau Pari, Karang Kudus dan Lancang.

5 Juli 2016, setelah berkeliling ke tiga pulau tadi untuk blusukan bersama camat, saya akhirnya kembali ke Pulau Tidung.

Bang Arief sempat menawarkan untuk melihat sunset di bagian barat Pulau Tidung yang lokasinya tidak berjauhan dengan tempat saya menginap, di rumah dinas camat yang berada di belakang kantor kecamatan. Tapi, saya pikir, ah sisakan untuk kunjungan berikutnya.

Nah, malam takbiran di Pulau Tidung, saya tidak ikut takbiran. Kalau di Pulau Panggang saya masih ikut takbiran, di Pulau Tidung, saya tidak ikut malam takbiran. Malah ngetem di rumah dinas aja.

Keesokan harinya, lebaran hari pertama, bang Arief dan anaknya, Alif, pergi shalat ied, saya bangun pagi, bangun, mandi langsung bantu-bantu istri bang Arief, mamanya Alif, Kak Erna untuk mempersiapkan open house camat di rumah dinas.

Kak erna tengah mempersiapkan opor ayam dan tekwan untuk tamu. Eh iya, malam takbiran atau akhir bulan Ramadan 2016, 1437H, saya dan keluarga bang Arief makan opor ayam di rumah dinas. Sama Tekwan juga. Nyuoss.. Enak enak enak.

Nah, sekitar jam 8, bang Arief dan Alif kembali dari shalat ied. Agak lama bang Arief memang, karena dia sebagai camat tentunya bersalam-salaman dengan warga.

Tak lama berselang bang Arief datang, tetamu datang ke rumah dinas. Sebagian besar staf kecamatan, dan pekerja di lingkungan kecamatan.

Mereka datang membawa keluarga. Sebagian saya masih kenal dan kenal saya. Jadi semacam reuni karena saya sudah sekitar 1,5 tahun tidak ke Pulau Tidung. Jadi ya ajang ngobrol-ngobrol juga sih.

Ada sekitar 1,5 jam acara open house. Dan saya bersama Bang Arief dan Keluarga, akan kembali ke Jakarta. Naik kapal cepat.

Jam 10 kurang, kami sudah kembali dermaga pulau tidung. Rencananya akan naik kapal yang jam 10. Tapi kapalnya penuh dan kami akhirnya naik kapal berikutnya.

Sekitar jam 11.30 kami kembali ke Jakarta. Dan tiba di Ancol sekitar jam 13.00 WIB.

Lebaran di Pulau Tidung ini berkesan buat saya. Jarang sekali saya menginap di Pulau Tidung. Terakhir menginap di Pulau Tidung itu tahun 2009, camatnya masih bang Billy, Satriadi Gunawan yang sekarang menjadi Kasudin PKP Jakarta Utara.

Berlebaran di Pulau Tidung juga hal pertama bagi saya di Kepulauan Seribu. Biasanya saya di Pulau Pramuka. Jadi ini sangat berkesan.

Ke Pulau Tidung kali ini juga, saya tidak ke Jembatan Cinta yang merupakan ikon pulau Tidung. Sudah beberapa kali ke sana sih sebenarnya. Jadi masih malas ke sana lagi.

Jakarta 4 Agustus 2016

Satu bulan setelah perjalanan dilakukan

 

tulisan ini juga available di Bacirita.ID : http://bacirita.id/catatan-perjalanan-ke-pulau-tidung-dan-pari-bagian-4-habis-takbiran-dan-lebaran-pertama-kali-di-pulau-tidung/

baca selengkapnya
Travel Journals

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari (3)

DCIM100MEDIA

Setelah kembali ke dermaga Pulau Pari, awalnya saya pikir, akan kembali ke Pulau Tidung. Ternyata bang Arief masih meminta saya menunggu. Okelah. Tidak masalah.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya

“Tom brangkat yuk”
“Ke mana Bang?”
“Ke Pulau Karang Kudus!”

wah saya baru ingat deh, dari awal keberangkatan, memang bang Arief udah bilang, selain ke Pulau Pari memang kita akan ke Pulau Karang Kudus. Kebetulan, pemilik pulau sedang liburan di situ.

Ternyata, berangkatnya bukan hanya saya, camat, dan anaknya camat si Alif. Lurah Pulau Pari Pak Maman, Istri dan anaknya, Babinkantibmas si Koim, sama Babinsa pak Samsul juga ikutan.

Mereka rupanya mau kembali ke Pulau Lancang, dan sekalian dianterin sama camat, pake Kapal Dinas, sekalian juga mereka mau dikenalin ke yang punya Pulau Karang Kudus. Om sapa lah gitu saya lupa. Chinese pokoknya.

Tak butuh lama untuk menuju ke Pulau Karang Kudus. Sekitar 10 menit naik speedboat dari Pulau Pari. Letaknya cuma sebelahan sama Pulau Tengah kok.

AKhirnya kami tiba di Pulau Karang Kudus. Wah, ternyata Private Island. Punya pribadi. Untuk menuju ke pulau, harus berjalan sekitar 100 meter-an dari dermaga. Kita meniti jalan dengan hamparan laut berwarna hijau tosca di sebelah kiri kanan.

DCIM100MEDIA
Jalan ke Pulau Karang Kudus
DCIM100MEDIA
Jalan ke Pulau Karang Kudus

Pulau Karang Kudus juga tidak begitu luas. Mungkin 2 hektar. Sekitar segitu lah. Tapi yang saya suka, Pulau ini asri. Banyak pohon dan tanaman.

Kami disambut sama pemilik pulau untuk ngobrol-ngobrol di depan rumahnya yang adem, di bawah pohon gitu deh. Pak camat. lurah, babinkantibmas dan babinsa diajak ngobrol sama pemilik pulau.

Saya? Cari pantai dulu untuk foto-foto. Wah pantainya bagus ternyata. Landai dan tidak dalam. Pasir putih. Ada kok foto selfie saya di pantai. Hohohoho.

Karena nggak bawa pakaian renang, ya apes deh. Gak berenang. Hahahaha!!

Kami di Pulau Karang Kudus mungkin cuma sekitar satu jam. Tidak perlu menjelajahi pulau ini. Cukup ke pantai. Tidak enak sama yang punya Pulau. Kan Private Island.

Setelah selesai, kami kembali ke dermaga. Kami akan melanjutkan perjalanan mengantarkan lurah ke Pulau Lancang. Pulau Lancang ini merupakan pusat pemerintahan Kelurahan Pulau Pari. I’ll write on my special blog about this Island.

Perjalanan ke Pulau Lancang dari Karang Kudus tidak butuh waktu lama. Naik speedboat, ya cuma 20an menit. Kami cuma ngedrop Lurah dan rombongannya.

Setelah ngedrop Lurah dan rombongan, nahkoda minta waktu sebentar untuk mengisi BBM. Kami pun menunggu sekitar 10 menit dan akhirnya meluncur kembali ke Pulau Tidung

(bersambung lagi)

 

Tanjung Priok, 22 Juli 2016

Note : Perjalanan dilakukan pada 5-6 Juli 2016 lalu

baca selengkapnya
Travel Journals

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari (2)

img_1676

Bang Arief kemudian memanggil saya, yang tengah duduk di sawung di dekat Dermaga Pulau Pari. “Tom kamu sama Alif ke Pantai Pasir Perawan aja,” ujar Bang Arief.Oh iya, Alif ini anak semata wayang, atau putra tunggal Bang Arief. Saya sudah mengenalnya sejak lama, karena saya sudah pernah menginap di rumah bang Arief, tahun 2008 lalu (wow delapan tahun lalu).
Saya sih memang sudah berencana akan mengunjungi pantai Pasir Perawan. Pantai Pasir Perawan ini sendiri, memiliki cerita sendiri bagi saya. Karena saya pikir rombongan Camat dan Lurah akan berkunjung ke Pantai Pasir Perawan, akhirnya, saya memilih menunggu, tapi ternyata mereka punya agenda lain. 
Saya dan alif akhirnya memutuskan untuk menuju pantai pasir perawan. Bang Arief pada dasarnya menawarkan saya menggunakan sepeda motor. Tapi saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Lebih menyehatkan. Lagian jalannya tidak terlampau jauh. Kurang lebih lima sampai sepuluh menit berjalan kaki.

Dari dermaga Pulau Pari, kalau mau ke pantai pasir perawan, tinggal belok ke kanan, dan berjalan sampai mentok ke pemukiman warga dan belok ke kiri. Jalan lurus dan tiba deh di pantai pasir perawan.

Pantai Pasir Perawan ini, dahulunya belum terjamah. Tahun 2011 pantai ini mulai kesohor. Dulunya menuju pantai ini harus melewati alang-alang. Sekarang tidak lagi (akan ada blog khusus ya tentang pantai pasir perawan ini).

Di pantai pasir perawan juga sudah banyak sawung dan tempat makan. Sangat berbeda dengan kondisi awal. Kalau lagi di sini, cuma berteduh di bawah pohon saja.

Yang saya suka di pantai pasir perawan ini, adalah pantainya yang tidak terlalu dalam. Kalau lagi pasang, tinggi air laut hanya mungkin sekitar sepinggang orang dewasa. 

Standardnya ya paling cetek. Sepaha orang dewasa. Intinya friendly buat anak-anak. Pantai Pasir Perawan, Arus dan tidak berombak besar, karena pantai pasir perawan ini seperti teluk yang masuk ke dalam, dan terlindung oleh mangrove.

Di pantai ini juga, hamparan pasir putih luas. Kita bisa melakukan bermacam aktifitas. Bermain voli, duduk-duduk, main pasir atau sekedar duduk berteduh sambil makan di tempat makan yang terbuat dari bambu. Sangat tradisional.

Bukan cuma sekali dua kali saya datang ke sini. Tapi pantai pasir perawan masih sangat terkesan bagi saya. Bagus sekali pantainya.

Setelah selfie dan mengambil video dengan action cam saya, akhirnya saya dan Alif kembali ke dermaga Pulau Pari. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Karang Kudus.

(bersambung)

baca selengkapnya
Travel Journals

Catatan Perjalanan Ke Pulau Tidung dan Pari (1)

image

Minggu 3 Juli 2016, saya bertandang ke Bojong Gede, ke rumah bang Arief. Sudah lama tidsk mampir ke rumah Bang Arief. Ke sana juga sekalian antar titipan beliau juga.
Saya berangkat pagi dari stasiun kota. Tiba di sana mungkin sekitar setengah duabelasan. Maklum, commuter line agak lambat, karena memasuki beberapa stasiun seperti manggarai, suka antri.
Sesampai di Bojong, dan ke rumahnya, saya ditawari untuk berangkat ke Kepulauan Seribu H-1 Lebaran atau Selasa 5 Juli 2016. Saya yang sudah kangen dengan Kepulauan Seribu tak butuh waktu lama untuk mengiyakan.
Tibalah hari untuk berangkat ke Pulau Tidung. Selasa 5 Juli 2016. Masih sekira pukul 05.00 WIB, saya sudah bersiap. Karena berangkat dari Ancol, saya naik transjakarta, selanjutnya saya sebut tj aja ya. Saya naik tj koridor 12, dan akan berganti busndi halte jembatan merah untuk naik koridor 5 kp melayu ancol.
Saya start, jam 05.55 (kurang lebih) dan sampai di halte Ancol hanya kurang dari 1 jam. Keluar dari halte ancol, saya jalan kaki ke dermaga 17. OTempat kapal cepat ke Pulau Tidung berangkat. Sebelumnya, bang Arief sudah mengirimkan pesan singkat, sudah tiba di dermaga 17.
Seusai menunggu, kira-kira jam 07.43 kami berangkat. Bang Arief, Mbak Erna, dsn anaknya Alif serta saya. Kapal yang saya tumpangi cukup besar. Bisa mamuat 150an orang.
Mencapai pulau tidung, butuh waktu 1 jam 15 menit. Jam 9 lewat sudah tiba setelah mampir sekitar 5 menit di Pulau Untung Jawa.

Journey Begins
Saya akan menginap di Rumah Dinas Camat di Pulau Tidung. Setiba di dermaga, kami menumpang bentor atau becak motor a-la Pulau Tidung. Tidak ada angkutan umum, sekelas Angkot di Kepulauan Seribu. Bentor atau Sepeda Motor sajanyang ada.
Kami pun tiba di rumah dinas camat.
Selesai merapikan barang-barang, Bang Arief ternyata mau blusukan ke Pulau Pari. Dan Karang Kudus. Wah sudah pasti saya mau ikut.
Jam 11 kami berangkat dengan kapal dinas camat. Karena kapal dinas adalah speedboat, hanya butuh setengah jam sudah sampai di Pulau Pari.
Sampai di sana, sudah ada Lurah Pulau Pari, pak Surahman yang saya akrab panggil pak Maman. Beliau bersama keluarga, dan sejumlah petugas PPSU sudah menunggu untuk diberi pengarahan.
Soal Pulau Pari ini, akan jadi blog tersendiri, saya sering bolak balik datang. Ketika Astawan Husen masih menjadi lurah sekira tahun 2010.
Karena sudah sering ke sini, beberapa teman PHL yang kini sudah menjadi PPSU masih kenal baik. Rommy dan Yudhi menyambut. Bang Tommy udah lama nggak ke sini. Kalau dipikir-pikir mungkin tiga tahun tidak ke Pulau Pari.
Karena mereka akan dapat pengarahan dari Camat, saya hanya menyempatkan diri berfoto sebentar dengan Rommy dan Yudhi. Saya juga sempat ngobrol sebentar dengan pak Maman.
Eh iya, ternyata ada juga Babinkantibmas Pulau Pari, Koim dan Pak Samsul, Babinsa. Masih kenal baik dengan mereka juga saya. Hehehe. Sempat ngobrol dong dan foto-foto. Ya ngelepas kangen dong.
Banyak hal yang dibicarakan dengan mereka. Banyak sekali, karena sudah lama tidak bertemu. Hehehe.
Perbincangan mulai dari bahas apa yang dilakukan di Kelurahan Pulau Pari dan Pulau Lancang, hingga ke soal wisata di Pulau Pari yang mulai berkembang. Sangat berkembang akhir-akhir ini.
Dan … Tiba-tiba bang Arief memanggil saya …..

(Bersambung)

baca selengkapnya